Sumber:
http://powermathematics.blogspot.com
Perkuliahan filsafat selama satu semester oleh Pak Marsigit
1. Berikut skema besar yang memuat ontologi, epistemologi, dan aksiologi
2. Berikut skema SUMBU DUNIA sebagai abstraksi dunia pendidikan matematika

3. Fenomena belajar-mengajar matematika di sekolah
a. Proses belajar-mengajar matematika di sekolah masih berpusat pada guru. Program bahwa siswa sebagai subjek belajar belum terlaksana. Selama proses belajar siswa harus memperhatikan setiap hal yang dilakukan guru, entah itu kata-kata yang dijelaskan guru, maupun tuisan-tulisan yang ditulis guru di papan tulis. Guru masih berkedudukan sebagai pengajar matematika di mana matematika yang dipelajari siswa masih sepenuhnya dikenalkan oleh guru bukan berasal dari pikiran siswa sendiri. Padahal seperti diungkapkan oleh Pak Marsigit dalam perkuliahan filsafat, guru seharusnya tidak diposisikan sebagai pengajar matematika namun mempunyai tugas memfasilitasi, memonitoring, dan sebagai sumber belajar bagi siswa selama proses belajar berlangsung.
b. Strategi guru baik itu model pembelajaran maupun metode dalam menyampaikan matematika kepada siswa masih konvensional dan tradisional. Dari hasil observasi kelompok KKN-PPL di lapangan, kebanyakan dalam mengajarkan matematika guru menggunakan metode ceramah hampir dalam semua bab yang akan diajarkan kepada siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa penerapan metode mengajar yang inovatif yang memungkinkan siswa berpartisipasi baik secara fisik maupun mental tidaklah mudah dipraktekkan. Selain itu, tidak semua materi pelajaran dapat disampaikan menggunakan metode yang inovatif, seperti eksperimen dan cooperatif. Namun demikian pembelajaran inovatif yang sulit diterapkan kepada siswa mampu memberikan manfaat yang cukup besar bagi siswa selaku subjek belajar. Peran aktif siswa yang dilibatkan dalam pembelajaan membuat siswa lebih menikmati proses pembelajaran yang berlangsung dan membuat siswa lebih memaknai pembelajaran yang dilakukan. Kemungkinan siswa untuk bosan dan seakan acuh terhadap pembelajaran matematikapun dapat dihindari.
c. Selama di sekolah, matematika yang saya kenal hanya sebatas matematika yang penuh dengan rumus-rumus instan yang dicatatkan guru di papan tulis. Pembelajaran seperti ini sangat merugikan siswa, walaupun kadang ini menguntungkan guru karena guru tidak perlu memutar otak bagaimana caranya agar siswa benar-benar mengetahui bagaimana cara mendapatkan rumus akhir yang ditulis di papan tulis. Siswa dimanjakan dengan rumus-rumus yang sudah jadi tanpa dibiasakan diberi kesempatan berpikir bagaimana memperoleh rumus tersebut dan digunakan untuk apa nantinya rumus tersebut. Seharusnya guru matematika menyadari bahwa mengajar adalah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para siswa agar mampu menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri dengan bantuan gurunya. Itulah sebenar-benar constructivis, mengajar adalah memberi kesempatan seluas-luasnya agar para siswa mampu melakukan kegiatan diskusi dan melakukan kegiatan penelitian seperti yang ditulis Pak Marsigit dalam elegi “Menggapai Inovasi Pendidikan”.
d. Matematika tanpa alat peraga akan beku. Dari beberapa siswa yang saya temui di lapangan mengatakan bahwa matematika itu ilmu pasti tetapi begitu abstrak karena hanya teori belaka tanpa ada demonstrasi menggunakan alat peraga. Kebanyakan guru mengajar tanpa menggunakan alat bantu mengajar yang padahal akan sangat membantu dan mempermudah dalam menyampaikan materi kepada siswa. Menurut saya, tidak selamanya matematika itu sekedar teori belaka. Memang tidak semua materi dapat dipelajari dengan alat bantu mengajar maupun alat peraga. Namun demikian tak sedikit juga materi yang dapat diajarkan menggunakan alat peraga seperti materi geometri. Padahal Pak Marsigit pernah menguraikan mengenai hakekat matematika dari bumi ke langit merentang dari benda konkret, skema, model, dan abstrak. Matematika sekolah merupakan matematika berupa benda konkret (usia SD), skema ( SD-SMP ), dan model ( SMP-SMA ) yang dapat diterapkan menggunakan alat bantu mengajar baik berupa alat peraga maupun benda-benda konkret yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
e. Situasi maupun kondisi belajar matematika kurang kondusif dan menyenangkan siswa. Kegiatan pembelajaran yang selalu dilakukan di kelas dengan posisi duduk berderet dan sejajar menurut saya sangat monoton dan membosankan siswa selaku pebelajar. Selain monoton, posisi duduk yang diterapkan kurang dapat mengontrol / memonitor kegiatan siswa karena yang termonitoring hanya siswa yang duduk di deretan depan, sehingga siswa yang dibelakang cenderung terabaikan dan enggan memperhatikan guru karena jaraknya cukup jauh. Untuk mengatasi jarak siswa dan guru dapat diatur tempat duduk melingkar seperti yang diterapkan Pak Marsigit selama perkuliahan karena lebih memusatkan perhatian siswa pada titik tengah yaitu guru.
f. Pendidikan sentral yang dilakukan pemerintah yang penuh dengan PERMEN pendidikan termasuk juga dalam pendidikan matematika menurut saya membebankan guru dan terlalu memaksa berpikir siswa. Walaupun kurikulum yang diberlakukan pemerintah saat ini berbasis KTSP namun banyaknya materi yang diajarkan distandarkan sama dan terus diatur oleh PERMEN yang ada. Guru walaupun diberi kebebasan mengatur pembelajaran menurut kemampuan siswa, namun tetap saja dipaksa menyelesaikan materi standar yang kadang waktunya begitu singkat sehingga tak jarang karena waktu yang mendesak guru melakukan tindakan mengebut dalam menyampaikan materi tanpa memperhatikan kemampuan siswa dalam berpikir. Kebebasan berpikir matematika cenderung dibatasi karena dipaksa menyelesaikan materi yang ada. Seharusnya PERMEN yang ada mampu mewakili kebutuhan belajar matematika siswa dan KTSP diganti dengan KBKS ( Kurikulum Berorientasi pada Kebutuhan Siswa ) seperti yang ditulis dalam Surat Terbuka Kepada Pak Presiden oleh Bapak Marsigit.
g. Evaluasi akhir matematika yang hanya diukur menggunakan UAN dalam bentuk soal pilihan ganda dirasa sangat memberatkan siswa. Sepertinya naif jika proses pembelajaran matematika yang telah berlangsung selama tiga tahun hanya dinilai menggunakan UAN. Soal bentuk pilihan ganda juga kurang bisa mengukur kemampuan matematika siswa. Aspek-aspek dalam matematika seperti komunikasi matematika, kemampuan pemecahan masalah matematika tidak bisa terwakili dan dinilai menggunakan soal pilihan ganda. Menurut saya soal objektif berbentuk pilihan ganda kurang akurat dalam mengukur kemampuan matematika siswa.
h. Adanya fenomena menyontek massal saat UAN termasuk dalam matematika di daerah Jawa Timur yang termuat di Nova edisi Juni 2011 membuktikan ketidakjujuran dalam dunia pendidikan di Indonesia. Proses pembelajaran yang dilakukan selama tiga tahun itu tidak murah dan membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Rasanya begitu memprihatinkan ketika harus dinodai oleh aksi menyontek massal yang anehnya didukung oleh pihak sekolah, komite sekolah, masyarakat, dan dinas pendidikan yang terkait. Buktinya, ketika ada pihak yang berusaha menguak aksi tersebut malah dipojokkan oleh pihak sekolah dan diusir oleh masyarakat. Pendidikan yang memanusiakan kok disalahgunakan oleh manusia itu sendiri.
4. Anti Tesis-Anti Tesis nya
a. Selama mempelajari matematika, siswa merupakan subjek belajar bukan guru. Dalam Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK yang membahas siswa sebagai yang ada, pengada, dan mengada menggambarkan hakekat siswa sebagai subjek pendidikan. Siswa mempunyai keterampilan melakukan transformasi dari dunia satu ke dunia lain.
b. Pendidikan matematika yang inovatif tidak hanya menerapkan model pembelajaran yang konvensional menggunakan metode ceramah belaka, namun memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk membangun pikirannya dan berdiskusi. Kegiatan belajar-mengajar matematika tidak hanya sebatas ceramah namun perlu diinovasi yang mampu menampung kreativitas siswa dalam berpikir matematika. ( Elegi menggapai inovasi pendidikan bagian Inovasi3 )
c. Pembelajaran matematika yang bermakna adalah kegiatan belajar yang memungkinkan siswa untuk membangun sendiri pemikiran matematika dalam dirinya dengan kata lain menerapkan constructivisme bukan absolutisme. Seperti yang dipesankan Pak Marsigit dalam perkuliahan filsafat “ Setinggi-tingginya filsafat belajar matematika adalah jika sampai pada keadaan di mana siswa sendirilah yang menyadari bahwa matematika itu tak lain adalah dirinya sendiri”.
d. Menurut saya, pembelajaran matematika yang inovatif dan mudah dicerna siswa apabila menggunakan alat bantu mengajar tidak hanya sebatas spidol/ kapur dan papan tulis. Seperti dalam Inovasi5 dalam Elegi Menggapai Inovasi Pendidikan untuk menyongsong masa depan dalam teori tentang sumber belajar hendakny memanfaatkan lingkungan alam, lingkungan dan masyarakat serta segenap isinya termasuk alat peraga sebagai sarana alat bantu mengajar.
e. Situasi belajar yang kondusif dan menyenangkan menurut saya akan membantu siswa dalam memahami matematika. Belajar tidak hanya di kelas mencegah kebosanan siswa. Posisi duduk melingkar seperti yang diajarkan Pak Marsigit akan lebih mengkondusifkan proses belajar karena siswa akan cenderung memusatkan perhatian di titik sentral yaitu pada sumber belajar.
f. Digantinya kurikulum berbasis KTSP dengan KBKS saya rasa mampu mewakili kebutusan siswa dalam belajar matematika karena mampu memberikan kebebasan dalam berpikir matematika.
g. Dihapusnya UAN sebagai satu-satunya alat evaluasi matematika akan lebih memberikan keadilan bagi siswa dalam menilai kemampuan secara akurat. Sebaiknya UAN diganti dengan PRONASMINRASA (Program Nasional Menumbuhkan Minat dan Rasa Senang Belajar) yang benar-benar dapat mengukur kemampuan siswa secara akurat dan tidak menimbulkan momok di kalangan siswa. Evaluasi sebaiknya tidak hanya diukur menggunakan soal pilihan ganda, karena ada aspek-aspek dalam matematika yang terabaikan.
h. Penggalakkan disiplin dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan budaya Sehat dan Bersih dalam Pendidikan Matematika akan menguntungkan banyak pihak. Pendidikan matematika yang jujur, bersih dari aksi korupsi akan meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia terutama dalam pendidikan matematika itu sendiri.
5. Berikut skema yang menggambarkan hubungan antara fenomena, tesis, dan anti tesis dalam proses belajar-mengajar matematika

6. Kesimpulan:
Menurut saya, dunia pendidikan matematika inovatif dan kontemporer secara ekstensive dan intensive adalah memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Menempatkan siswa sebagai SUBJEK belajar sesuai hakekat siswa
b. Menerapkan strategi, model, dan metode pembelajaran yang inovatif yang melibatkan partisipasi siswa baik fisik maupun mental
c. Adalah matematika kontruktivisme bukan absolutisme
d. Mampu memanfaatkan alam dan isinya sebagai sarana dan alat bantu mengajar
e. Mampu menciptakan suasana dan iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan siswa untuk belajar matematika
f. Menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa seperti KBKS
g. Menggunakan alat evaluasi matematika yang mampu mengukur kemampuan siswa secara akuarat tanpa membebankan pikiran siswa
h. Dunia pendidikan matematika yang Sehat dan Bersih dari tindak kecurangan
No comments:
Post a Comment