Wednesday, June 1, 2011

MY REFLECTION IN PHILOSOFY OF MATHEMATICS EDUCATION

The Last Meeting by Mr. Marsigit

Thank a lot to Mr. Marsigit...

Tak terasa satu semester sudah aku belajar filsafat bersama Pak Marsigit. Dalam waktu yang singkat ini,saya mendapatkan banyak hal yang baru. Secara pribadi saya merasa menemukan jati diri saya sendiri. Pikiranku adalah duniaku ala Socrates yang Bapak ajarkan dalam perkuliahan telah memberikan inspirasi bagi saya bagaimana menghargai diri, dan mencoba memahami diri sendiri sebelum bisa memahami dunia. Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bimbingan dan ilmu yang diberikan Bapak kepada saya. Walaupun saya bukan seorang muslim,setelah belajar filsafat saya semakin sadar pentingnya agama sebagai foundation of my life, seperti yang bapak ajarkan dalam perkuliahan filsafat. Berbagai macam goncangan sering saya alami dalam perkuliahan filsafat, namun dengan adanya goncangan itu saya menemukan suatu keyakinan dan kemantapan dalam menjalani hidup. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak Marsigit.

Akhir-akhir ini saya menemukan banyak sekali orang-orang yang berpendidikan cukup tinggi namun masih terjurumus pada mitos, dan belum mencapai logos. Kebanyakan dari mereka hanya menggandalkan logika dan pikiran dalam menghadapi permasalahan karena dalam pendidikan yang mereka jalani, mereka dituntut untuk mengembangkan daya analisis dan kemampuan pikiran/logika. Saya berharap dengan perkuliahan ini saya tidak hanya mengandalkan logika dan pikiran semata, namun dapat menyeimbangkan hati dan pikiran dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Terima kasih atas bimbingannya...

Flash back selama satu semester, ketidaksantunanku pada filsafat mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap dan menyikapi kehidupan di dunia khususnya dunia pendidikan matematika. Elegi permohonan maaf atas arogansi filsafatku yang tidak menyebutkan gelar, berbicara tidak sesuai kapasitas membuka mataku bahwa hidup membutuhkan suatu perjuangan keras. Berbicara sesuai kapasitas itu membutuhkan perjuangan. Karakteristik orang berbeda-beda, usia manusia pun juga berbeda sehingga ketika berbicara pun mempunyai kapasitas yang berbeda pula. Seiring berjalannya waktu orang mengetahui jati diri orang lain sehingga ketika melakukan suatu hal akan menimbulkan resiko, dan tantangan. Karena perbedaan jati diri terhadap orang lain, kadang untuk mengambil suatu keputusan menimbukan kontroversi dalam diri, hidup, dan kehidupan itu sendiri seperti yang dicontohkan oleh Pak Marsigit mengenai Pak Wono pejabat BSNP yang meminta pendapat mengenai BSNP yang menyebabkan kontroversi. Dalam BSNP yang menangani pendidikan seharusnya mementingkan pendidikan itu sendiri. Sebagai contoh adanya Standar Isi yang menyebabkan kontroversial. Pendidikan seharusnya mengedepankan subjek pendidikan yang tak lain adalah siswa, tetapi kenyataannya dengan adanya Standar Isi, siswa yang harus menyesuaikan diri dan seakan-akan dipaksa untuk menaati segala macam pasal-pasal yang ada di Standar Isi. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa, karena kekuatan pendidikan matematika itu ada dalam sosio-construc matematika dalam diri siswa yang akan muncul secara alami dan berkembang dalam pikiran siswa tidak bisa diatur-atur menggunakan pasal dalam BSNP. Itulah salah satu hal yang menyebabkan BSNP tidak sesuai dengan hakekat belajar-mengajar, hakekat siswa, hakekat pendidikan, hakekat matematika,maupun hakekat pendidikan matematika.Dalam hakekat matematika, matematika itu mengandung kontradiksi terkait kedudukan matematika sebagai ilmu itu sendiri.

Filsafat mengajarkan bahwa berfikir parsial itu berbahaya. Dalam transformasi dunia, ketika kita berbicara suatu hal masih ada separuh dunia lain yang tidak aku bicarakan. Orang filsafat hendaknya berpikiran luas, karena masih banyak hal yang masih belum dipelajari tentang dunia. Dalam transformasi dunia terdapat manusia yang tetap kedudukannya yaitu sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Berpikir kritis sangat diperlukan untuk membangun dunia agar tidak terjebak dalam bahaya berpikir parsial. Seperti dalam elegi “Hantu RSBI”, siswa terjebak dalam bahaya berpikir parsial sehingga yang ada dalam pikiran hanyalah seputar masalah kematian sampai presensipun tertulis R.I.P ( Rest in Peace).

Filsafat pendidikan matematika menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, misalnya dengan memakai analogi kalimat matematika untuk menggambarkan kehidupan manusia dalam berhubungan dengan Tuhan.

Suatu bilangan misal A dibagi tak hingga yang dalam matematika dikenal sebagai A/~ = 0 mengilustrasikan seberapa besar dan banyaknya dosa manusia sampai tak hingga banyaknya akan tetap diampuni oleh Tuhan, sehingga dosa manusai dianggap tidak ada. A menggambarkan keesaan Tuhan ( Tuhan itu satu), tak hingga menggambarkan dosa manusia yang begitu banyak namun dengan meminta maaf dan mohon ampun pada Tuhan, dosa kita akan dihapuskan oleh Tuhan yaitu nol (0).
X0=1, menggambarkan setinggi-tingginya derajat manusia masih lebih tinggi derajat orang yang ikhlas.

Banyak hal yang dapat dipelajari dalam filsafat pendidikan matematika yang berhubungan dengan dunia pendidikan matematika itu sendiri, seperti hekekat siswa sebagai yang ada, pengada, dan mengada mengajarkan kelak sebagi pendidik hendaknya memperlakukan siswa sebagai subjek pendidikan. Siswa mempunyai ketrampilan untuk melakukan transformasi dunia, salah satunya dengan menyadari bahwa siswa itu tak lain adalah researcher matematika. Guru berkedudukan sebagai fasilitator siswa yang mampu menunjang siswa untuk matematika dalam dirinya sehingga siswa menyadari bahwa matematika itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Dari uraian di atas, terlihat betapa banyak manfaat yang diperoleh dengan mempelajari filsafat pendidikan matematika karena akan berguna bagi dunia pendidikan matematika sendiri yang akan digeluti oleh mahasiswa calon pendidik kelak, maupun bagi kehidupan pada umumnya.

Setinggi-tinggi filsafat belajar matematika adalah jika sampai pada keadaan di mana siswa sendirilah yang menjadi matematika itu sendiri.
Kalimat terakhir itu akan saya ingat dan saya gunakan dalam menggajar kelak Pak, sekali terima kasih banyak Pak Marsigit.

No comments:

Post a Comment